Bandwagon Effect
alasan kenapa kita sering ikut-ikutan tren yang gak jelas
Pernahkah kita tiba-tiba rela antre dua jam di bawah terik matahari demi sebuah roti viral? Atau mungkin, teman-teman pernah mendadak merasa harus punya botol minum raksasa berwarna pastel, padahal di rumah sudah ada lima botol yang menganggur?
Saya mengaku, saya pernah berada di posisi itu. Awalnya kita melihat suatu tren dan berpikir, "Apaan sih, aneh banget." Namun perlahan, saat linimasa media sosial kita dipenuhi hal tersebut, pandangan kita berubah. Tiba-tiba barang yang tadinya jelek jadi terlihat keren. Tiba-tiba lagu yang tadinya berisik jadi enak didengar. Tiba-tiba kita menekan tombol checkout tanpa banyak berpikir.
Kenapa kita melakukan ini? Kenapa kita, sebagai manusia modern yang katanya rasional dan pandai menimbang untung-rugi, sering kali terseret arus tren yang sebenarnya tidak masuk akal?
Pertanyaan ini mungkin sering mampir di kepala kita saat menatap tumpukan barang tidak terpakai di kamar. Namun, sebelum kita menyalahkan diri sendiri atau menyalahkan algoritma media sosial, mari kita mundur sejenak. Ada sebuah misteri di balik perilaku ini yang usianya jauh lebih tua dari internet itu sendiri.
Jauh sebelum ada tren joget viral atau tantangan makan makanan pedas, sejarah sudah mencatat betapa mudahnya kita terbawa arus. Mari kita kembali ke Amerika Serikat pada tahun 1848.
Saat itu, ada seorang badut sirkus terkenal bernama Dan Rice. Untuk menarik perhatian penonton, dia menggunakan sebuah kereta kuda yang membawa grup musik. Kereta ini disebut bandwagon. Sang badut sangat populer, sampai-sampai para politisi lokal mulai meminta izin untuk ikut naik ke atas bandwagon tersebut sambil berkeliling kota. Mereka sadar, jika mereka terlihat bersama sesuatu yang disukai banyak orang, mereka juga akan ikut disukai.
Dari sinilah muncul istilah jumping on the bandwagon. Sebuah frasa yang menggambarkan perilaku ikut-ikutan sukses atau tren tanpa peduli pada esensi aslinya.
Fakta sejarah ini menunjukkan satu hal penting: kebiasaan ikut-ikutan bukanlah produk era digital. Ini adalah bagian dari DNA kita. Namun, ini memunculkan pertanyaan yang lebih mendalam. Jika kebiasaan ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu, apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala kita? Mengapa rasanya sangat sulit—bahkan terkadang menyiksa—untuk menjadi berbeda dari mayoritas?
Untuk menjawabnya, mari kita pakai mesin waktu dan mundur lebih jauh lagi. Bukan ke abad ke-19, tapi ke padang sabana puluhan ribu tahun yang lalu.
Bayangkan teman-teman sedang mencari makan bersama kelompok suku prasejarah kita. Tiba-tiba, tanpa aba-aba, semua orang di sekitar kita lari terbirit-birit ke arah bukit. Dalam situasi itu, pernahkah kita berpikir untuk berhenti dan bertanya, "Permisi, kenapa kita lari ya? Ada data statistik soal ancaman predator di area ini?"
Tentu saja tidak. Kita akan langsung ikut lari sekencang mungkin. Karena di zaman itu, mereka yang terlalu banyak berpikir saat mayoritas sedang bertindak, biasanya berakhir menjadi makan siang singa.
Secara evolusioner, menyalin perilaku kelompok adalah mekanisme bertahan hidup tingkat tinggi. Alam bawah sadar kita mengasosiasikan "kelompok" dengan "keamanan". Otak kita dirancang untuk menjadi alat pendeteksi kesepakatan sosial.
Tapi di sinilah letak masalahnya. Sistem peringatan dini yang dulu menyelamatkan nenek moyang kita dari harimau bergigi pedang itu, sekarang masih tertanam di otak kita. Lalu, apa yang terjadi ketika sistem pertahanan purba ini dihadapkan pada tren modern yang sebenarnya sepele?
Inilah momen di mana sains memberikan jawaban yang sedikit mengejutkan. Fenomena ini dalam psikologi disebut sebagai Bandwagon Effect. Ini adalah bias kognitif di mana probabilitas kita mengadopsi sebuah kepercayaan atau perilaku akan meningkat seiring bertambahnya jumlah orang yang melakukan hal tersebut.
Lebih gilanya lagi, ini bukan sekadar soal "ingin diakui". Ini soal rasa sakit.
Para ahli ilmu saraf (neuroscientist) pernah memasukkan sejumlah orang ke dalam mesin pemindai otak (fMRI). Mereka menemukan bahwa ketika pendapat seseorang berbeda dari pendapat kelompoknya, sebuah area di otak yang bernama anterior cingulate cortex akan menyala aktif.
Tahukah teman-teman apa fungsi area otak tersebut? Area itu adalah bagian yang memproses rasa sakit fisik.
Artinya, ketika kita merasa tertinggal dari sebuah tren, atau menjadi satu-satunya orang yang tidak tahu soal drama viral terbaru, otak kita mendaftarkannya sebagai sebuah rasa sakit. Kita mengalami apa yang disebut oleh para ilmuwan sebagai evolutionary mismatch atau ketidakcocokan evolusi. Otak purba kita salah mengartikan "ketinggalan tren sepatu terbaru" sebagai "ketinggalan suku dan akan mati sendirian di hutan".
Otak kita pada dasarnya menyuntikkan hormon stres sampai kita menyerah dan akhirnya ikut-ikutan. Ketika kita akhirnya menekan tombol beli, otak melepaskan dopamin. Ah, kita aman. Kita kembali menjadi bagian dari kelompok.
Jadi, teman-teman, mari kita tarik napas lega. Saat kita menyadari betapa kuatnya tarikan biologi di dalam kepala kita, kita bisa mulai memaafkan diri sendiri.
Membeli barang viral yang tidak kita butuhkan atau mencoba gaya pakaian yang aneh bukan berarti kita bodoh atau tidak punya pendirian. Itu sekadar bukti bahwa kita adalah manusia yang sistem operasi otaknya masih menggunakan versi sabana Afrika purba, padahal kita hidup di era e-commerce.
Namun, bukan berarti kita harus pasrah menjadi budak tren. Sains tidak hadir untuk memberi kita alasan, melainkan untuk memberi kita kendali. Berpikir kritis dimulai dari kesadaran.
Sekarang, setelah kita tahu bahwa rasa Fear of Missing Out (FOMO) hanyalah tipuan anterior cingulate cortex yang ketakutan, kita punya kekuatan untuk memberi jeda. Besok, ketika teman-teman melihat tren baru yang mulai ramai, atau barang viral yang tiba-tiba terasa wajib dimiliki, berhentilah sejenak. Senyum sedikit, lalu katakan pada otak purba kita:
"Tenang saja, kita tidak sedang dikejar singa kok. Kita cuma tidak butuh barang ini."
Kadang-kadang, keberanian terbesar di era modern bukanlah memimpin kelompok, melainkan merasa nyaman dan aman saat tidak ikut naik ke atas kereta musik yang sedang lewat.